Short Stories
Gloomy November

Anggap saja kamu sudah menyusun uno stack dengan rapi tapi beberapa detik sebelum permainan, seseorang menyenggol dengan siku kirinya dan segalanya berantakan. Kamu ingin marah tapi kamu takut terlihat pemarah 'hanya karena balok-balok uno stack', kamu jadi memendam dan mengutuk dirimu sendiri lalu beberapa menit kemudian kamu medapati diri kamu sedang menahan air mata di depan cermin. Anggap saja kamu sedang sendiri dan ingin menangis atau berteriak sampai rahangmu sakit, tapi yang kamu dapati kamu hanya merasakan sesak tapi tidak juga menangis atau tidak sedikitpun suara yang keluar dari mulutmu. Dan ketika kamu membutuhkan sandaran, segala pundak, tonggak, bahkan dinding di teras rumah mu tiba-tiba menghilang. Dan segalanya secara bersama berpindah pada sungai yang lebih jernih.

Ya beberapa menit kemudian kamu tersadar bahwa kamu telah sendirian dengan hati yang gelisah dengan balok-balok uno stack yang tercecer dengan dada yang sesak penuh amarah dengan pandangan abu-abu pada langit-langit kamarmu.

Lalu kamu mencoba menghitung domba agar tertidur, satu domba adalah suatu kebahagiaan kamu anggap, tapi kamu tidak menemukannya, lalu kamu berhayal di dalam hayalanmu bahwa ada beberapa domba dan kamu tertawa, kamu bahagia, seakan-akan nyata. Dan ketika kamu sadar mereka hanyalah hayalan di dalam hayalan.

Menyeramkan.

Bahkan setelah itu kamu bermimpi pada hari yang berurut, mimpi yang membuat mu tidak ingin berada dikamar sendiri dengan lampu yang padam. Apa arti dari ditinggalkan? Kamu bermimpi seakan-akan itu nyata dan lantas ketika bangun kamu mendapati dirimu menangis dengan pilu. Apa arti dari kesepian? Kamu bermimpi seakan-akan itu nyata lantas ketika bangun kamu mendapati dirimu menangis hingga gugu.

Menyeramkan.

Lalu berapa domba yang kamu miliki?

Menyeramkan.