Aku pernah bercerita bahwa aku terbiasa menunggu. Bukankah hidup memang terkadang untuk menunggu? Seperti menunggu teh dari air yang mendidih sampai lidah kita terbiasa dengan suhunya. Ya aku tau bisa saja aku meniupnya hingga hangat, hingga bisa ku hirup pelan-pelan. Tapi bukankah itu menambahkan carbon dioksida kedalam segelas teh panas itu, dan yang kamu dapati hanya kamu yang kehabisan nafas. Tidak. Untuk ku hanya perlu menunggu. Ada masa dimana kamu sadar bahwa segalanya akan indah pada waktunyakan?
Lantas aku pasrah?
Oh tentu tidak. Aku menghabiskan separuh hari ku untuk membetulkan atap rumah. Aku meluangkan waktu untuk mencoba resep baru. Aku melakukan segalanya sampai aku sadar bahwa waktu untuk dibuang-buang sudah berkurang. Bahkan aku lupa memperhatikan bunga pukul sembilan yang bermekaran tiap jam sembilan. Ah aku juga lupa bagaimana rasanya berbaring di tempat tidur hanya sekedar berpikir suatu hal yang aneh.
Ya, aku terkadang berfikir bagaimana baiknya ketika aku mati, ketika aku menemukan pasangan, ketika aku pergi ke luar kota, ketika aku pergi ke kantor, dan segala hal yang bahkan belum tentu aku lakukan. Kadang itu memakan waktu berjam-jam.
Dan aku terlalu tidak pasrah hingga mengabaikan banyak detail yang Tuhan dan orang lain berikan. Sampai ada yang bertanya, aku berusaha untuk apa, untuk siapa.
Dan pertanyaan itu membuat aku menyediakan waktu lama di atas kasur dan memikirkannya berulang-ulang. Sangat rumit. Aku bahkan tidak menemukan puzzlenya. Sial.
So don't look to much to what others do And oh for god's sakes honey Just be yourself, be you