'A, bagimu cinta selalu sama saja, kadang lebih manis dari gulali kapas yang biasa berwarna merah jambu, dan kadang lebih pahit dari kopi tanpa gula yang biasa disajikan di bawah pohon besar di belakang rumah nenekmu dulu. Bagimu cinta selalu sepaket dengan pahit.'
A, kamu meneguk perlahan cangkir kopi itu. Aku tau rasanya, pahit. Secangkir kopi hitam, yang entah sengaja atau tidak lupa kamu seduh bersama gula. Kopi itu semakin menebalkan ingatan tentang nenekmu, wanita senja yang biasa menaruh sesaji di bawah pohon besar di belakang rumahnya, dan diam-diam kamu menyelinap untuk mencicipi kopi hitam yang berada di gelas bening dalam nampan bersama menyan dan bunga-bunga lain. Kamu pernah melihat adegan dimana seorang tokoh utama serial televisi meminum segelas air hitam yang terlihat sama seperti kopi dan itu terlihat menawan bagimu. Lantas kamu ingin menjadi menawan dengan meminum kopi itu, yang mengakhiri mu pada penyesalan.
Penyesalan pertama karena rasanya tidak enak sama sekali, terlalu pahit, bahkan tenggorokanmu seperti sedang ditumbuhi lumut-lumut yang kemudian terasa mencekik sehingga kamu terbatuk-batuk. Penyesalan kedua karena kamu ingat bagaimana nenekmu meninggalkan bekas luka di lengan kananmu. Dia merasa marah dan berhak menodongkan sendok bekas menanak nasi yang masih mengepulkan asap dan kemudian memukulkannya pada lenganmu. Kini bekasnya serupa lambang hati yang berwarna coklat kehitam-hitaman. Penyesalan ketiga karena itu menimbulkan kebiasaan, kamu jadi rajin membuat kopi pahit dan meminumnya sedikit demi sedikit berharap agar sewaktu-waktu nenekmu bisa hidup kembali walaupun hanya untuk menodongkan sendok bekas nasinya.
Semesta seakan meminta mu untuk melihat ke sekeliling, ke deretan buku-buku tebal yang sering di baca ayah mu ketika masih berseragam PNS dan belum di jemput Tuhan. Matamu menerawang A, jauh ke dalam rak-rak buku tua milik ayah mu dimana terdapat album besar sarat atas kenangan mu.
'Apa kabar A? Sudah menahun dan aku masih menanyai kabar mu. Bagaimana dengan sepatu mu? Apa ia masih robek di ujungnya? Sempatkan waktu untuk membeli sepatu baru A. Aku tau waktu adalah hal yang paling berharga di hidupmu sekarang tapi sepatu bukankah adalah hal yang sama pentingnya juga? Seperti cerita mu bahwa sepatu adalah layaknya malaikat yang berhati baja karena ia rela menjadi alas dan berada di bawah, bahkan ia mau saja melewati krikil, karang, lumpur, tai, dan segala hal yang tidak sudi lagi dilakukan kaki. A, bagimu malaikat adalah ciptaan yang tidak memiliki iba untuk kemarahan bukan?'
Kamu mendengus. Kamu berfikir dia adalah orang yang paling sok tau di dunia ini selain operator telpon dan penawar asuransi. Tapi bukankah dia berbicara tentang dulu. Dulu yang masih berseliweran di otakmu, di buku-buku tua ayahmu, atau album besar di pojokan rak buku paling atas. Waktu membawa A menghilang dan menggantinya dengan sosok yang mungkin dia tidak tau. Dia hanya belum mengenal mu.
A, kamu pasti sedang merasa jengah dan berharap sesuatu mendorong mu dari kursi, menghantam jendela, membuat kaca hancur berantakan ke atas lantai marmer, kemudian kamu terhunyung keluar, setengah melompat, dan akhirnya kamu jatuh ke atas trotoar dengan bersimbah darah.
Dia adalah manusia bumi yang paling sok tau menurutmu bukan? Itu mungkin sebabnya kalian memiliki dua sekat dinding dalam satu rumah untuk membatasi ruang gerak masing-masing orang.
A, adakah orang yang paling menyedihkan dari dia? Ditinggal ibu, ayah, suami, dan anaknya sendiri. Jika ibu, ayah, dan suaminya pergi kehadapan Tuhan untuk ditanyai malaikat di dalam kubur, berbeda dengan anaknya. Anaknya memutuskan kabur dari rumah dan pergi ke dunianya sendiri, bahkan orang paling sok tau ini tidak bisa menjumpainya lagi.
Dia sendiri, dan mungkin kesepian. Kamu pasti lebih tau bagaimana rasanya sendiri dan kesepian bukan? Apa kamu iba? Ah, percuma aku bertanya. Toh tidak akan ada jawab. Toh kamu lebih tau segalanya.
A, segalanya telah berubah, Indonesia sudah merdeka berpuluh-puluh tahun, ini sudah pergantian presiden ke tujuh kalinya, semua sudah tidak sama. Kini pelangi tidak hanya merah-kuning-hijau, ia mengembangkan warnanya menjadi merah-jingga-kuning-hijau-biru-abu-abu-putih dan segala warnanya. Kamu tau, pluto bahkan tidak menjadi planet lagi dan australia bukanlah sebuah benua. Balon ku juga tidak hanya lima dan pecah satu menjadi empat, tidak berwarna warni dengan lilitan balon yang dibentuk sedemikian rupa sebagai penghias. Balon kini berbentuk tokoh kartun dan bisa di tiup kembali kalo kamu sanggup.
Hai A, mari keluar untuk melihat matahari terbit dari timur dan tenggalam ke barat. A, ibumu sudah pulang.
Hal yang paling kamu ingat mungkin ketika ayah mu memutuskan untuk gantung diri diruang kerjanya. Kamu pertama kali melihat ayahmu berayun-ayun dengan kepala yang terikat tali. Kamu terlalu naif untuk menyebutnya mati kala itu. Seharusnya kamu tidak harus menangis, toh ayah hanya laki-laki dengan panggilan ayah. Tapi pada nyatanya kamu menangis dan mengundang seluruh perhatian jatuh pada tagline berita ‘Laki-laki yang kesepian, akhirnya mati mengenaskan.’
Nenek kali itu mengungsikan mu ke rumah Haji Usman, dua kali belokan dari rumahmu, berhari-hari kamu dilarangnya pulang.
‘Bukankah itu rumahku?’ Katamu melalui bibir mungil yang masih berpaham pada orang-orang mati nantinya akan menjadi bintang. Tapi nenek hanya mengelus rambutmu sekilas kemudian meranyau tidak jelas.
Selama seratus hari kamu memandangnya, bintang yang berjarak sepuluh meter, menurut perkiraan mu, dari bintang yang paling terang.
Bintang itu kamu lihat pertama kali ketika ayahmu meninggal. Bagimu ayah adalah sesosok laki-laki yang berwajah suram, begitupun bintang itu, maka bagimu ialah ayahmu yang sedang bersinar tidak terang serupa setitik abu-abu diangit hitam malam.
Kamu merasa kehilangan A, walaupun kamu selalu menolak. Kamu terlalu kecewa, karena kamu belum banyak menciptakan kenangan bersama ayahmu. Yang kamu ingat hanya diam-diam mengintipnya dari balik pintu ruang baca, menyaksikan ayah mu yang tekun membaca buku tebal. Lalu suatu hari kamu mencoba membacanya tapi yang kamu dapati hanya kerutan di kening mu.
Kamu hanya ingat percakapan singkat yang tidak bermakna, hanya kamu yang bertanya dan ayah mu yang akan menjawab dengan kata ya, tidak, atau diam yang panjang, yang membuat mu menyerah dan kembali ke kamar.
Nenek bilang ayah sangat mencintai mu, tapi hati mu bilang sebaliknya. Kemudian kamu mulai menangis dan kecewa karena tidak sempat bertanya atau membuktikan bahwa ayah mencintaimu.
Dalam 17 tahun hidup mu, hanya ada nenek yang mendominasi sosok ibu sekaligus ayah. Dia yang akan mengingatkan mu makan, menyuruhnmu menyisir rambut, memilihkan sekolah yang terbaik untuk mu, memarahi mu ketika kamu salah, dan melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan kedua orang tuamu.
Nenek adalah orang yang lembut sekaligus tegas. Mungkin kamu lebih ingat tentang sendok nasi yang di pukulkan ke lengan mu, yang kemudian dia sesali ketika melihat lepuhan kulitmu, kemudian meniupnya, mengompresnya, memberi alkohol, dan meminta maaf berulang-ulang sampai kamu sendiri tertidur sangking lelah setelah menangis berjam-jam.
Dan adegan itu akan menjadi bosan karena diulang-ulang.
Hal yang paling kamu sesali adalah kematian nenekmu dalam pagi hari ketika kamu akan berangkat ke sekolah. Sebetulnya kamu juga tidak tau pasti kapan malaikat menjemputnya. Yang kamu tau tidak ada sarapan di meja makan, tidak ada nenek yang merapikan tanaman di halaman belakang, tidak ada nenek yang memberimu uang jajan. Kamu bergerak menuju kamarnya, dan kamu melihatnya terbujur kaku dengan suhu yang sangat dingin. Kamu panggil berulang kali namanya. Diam-diam otakmu menyelundupkan air dari sudut matamu. Kamu menangis walaupun tidak tau apa yang harus kamu tangisi. Kamu mengelak atas segala kenyataan sampai akhirnya mau tak mau kamu pasrah dan mebiarkan nenekmu dikubur hari itu.
Setelah itu ada hal yang kamu sadari. Nenek adalah sosok yang penuh rahasia, dari caranya meninggal yang diam-diam, dan dari segala ceritanya yang tidak memiliki akhir.
Kau tau A, dia ingin kamu menyelesaikannya. Cerita nenekmu ketika kamu mulai mempertanyakan keberadaanya, ibu. Dan sekarang dalam tujuh tahun ia ada untuk membuat akhir bersama mu. Dan kenapa kau hanya diam, membaca buku tua ayahmu berulang-ulang dan tetap tidak paham, mengurung diri di dalam kamar, atau meminum kopi pahit berharap nenekmu kembali walaupun hanya untuk memukul mu dengan sendok nasi yang masih panas, walaupun untuk memaksamu menyisir rambut dan mengenakan rok dibawah lutut, walaupun hanya untuk menyelesaikan ceritanya.
Tapi bukankah orang mati tidak bisa hidup kembali? Dan kamu percaya. Dan kamu percaya tidak ada kehidupan setelah mati, hanya ada penyiksaan dan kemuliaan bagi orang-orang baik yang kamu tau itu bukan untuk mu.
A, bukankah kamu ingin mendengar akhir ceritanya? A, ibumu sudah pulang.
Kamu memandangnya, garis muka di dalam cermin yang mengingatkan mu pada kisah melankolia seorang remaja yang akhirnya memutuskan untuk bunuh diri. Tapi ia tidak terlihat remaja, umurnya telah genap 24 tahun. Penuaan bergerak cepat melebihi laju usianya. Kamu menemukan kerutan di pelipis matanya, di keningnya, dan di sisi bibirnya. Jelas ia tidak pantas disebut remaja, tidak sesuai dengan usianya, tidak pula dengan raut wajahnya.
Mungkin kamu hanya mengingat kisahmu ketika akhirnya mengikuti ayahmu untuk memaksa mati. Tapi sayangnya kamu tidak seberuntung ayahmu. Kamu gagal meyakinkan Tuhan bahwa kamu siap mati.
Dan akhirnya dalam dua puluh empat tahun masa hidupmu kamu temui sebuah kekosongan yang semakin panjang. Kamu merasa sebatang kara tapi tidak. Kamu ingin yatim piatu tapi tidak. Sudah ku katakan ibumu pulang. Ibumu yang pulang dengan sepasang sepatu baru untukmu, katanya itu dari Paris. Tapi kamu tidak tersentuh untuk mengenakannya. Dia adalah ibu yang kamu harap membelikan gulali dan bertutur tentang cinta dan kepahitan.
Jika saja ibumu datang sebelum nenekmu meninggal dalam tidurnya, atau sebelum ayahmu menggantung lehernya, atau sebelum cerita nenekmu tentang ibu, atau sebelum kamu bertanya sosok ibu, atau sebelum kamu berfikir untuk bertanya keberadaannya, atau sebelum kesedihan yang membuat pedih yang membuat tangis yang membuat mati rasa yang membuat kekosongan amat panjang.
‘Dia sangat mencintai mu A. Paling tidak ia terlihat gembira dengan kehadiramu. Ia menjadi lupa kebiasaannya untuk menciumku sebelum tidur, untuk mengelus rambutku ketika bangun, untuk berdansa denganku ketika malam menciptakan purnama. Ia menghilangkannya demi tidurmu, demi pagimu, demi purnamamu.
Aku mengira kamu akan menggantikan posisiku. Lantas aku pergi mencari sesuatu yang tidak ku dapatkan ketika bersama dengannya.’
Dia menunjuk dadanya. Kamu merasakan kehampaanan tiba-tiba. Lebih kosong dari memandangi punggung ayahmu sambil berimajinasi tentang pelukan hangat dan dongeng sebelum tidur, lebih kosong dari lolongan anjing di tengah malam, lebih kosong dari suara ombak yang memecah bibir pantai kemudian berayun kembali kepada lautan.
Kemudian kamu menyadari bahwa semua tokoh yang ada dalam ceritamu merasakan melankolia yang sama dengamu. Dengan masing-masing yang siap menggorekan pisau di nadinya, atau menjerat leher dengan tali, atau menelan tetesan racun tikus. Melankolialah yang membuat ayahmu tergantung di ruang kerjanya, yang membuat nenekmu memilih kematian yang sembunyi-sembunyi, yang membuat ibumu kehilangan mu.
‘Aku hanya merasa bersalah tidak bisa mencintainya sebesar ia mencintaiku.’ Katanya, kata ibumu.
Kamu mematung, kamu memadang keluar jendela, memandang trotoar dan berfikir bagaimana jika hidupmu diakhiri disana dengan simbahan darah yang keluar dari rangka kepalamu.
Tidak sempat kamu memecahkan kaca jendela untuk melompat keluar, ia datang.
‘Saya tidak tau kapan A mau bercerita dan kembali bersama kita. Ia masih jauh di dalam masa sedihnya.’
Aku memberanikan melempar kursi ke jendela, kemudian kaca-kaca berhamburan ke lantai marmer karena pukulan keras berkali-kali. Sambil memejamkan mata aku berlari. Aku melompat. Aku pasti mati. Semoga aku tidak terlihat memalukan di tagline berita nanti.
Aku sempat menghatam kabel listrik, atap, dan capung yang tak sengaja terbang. Kemudian jatuh tepat di trotoar dengan kepala yang sedikit menyamping ke jalan. Aku mati, aku pasti mati. Aku bahkan tidak merasakan ada darah yang merembes keluar atau sakit setelah jatuh dari ketinggian. Aku tidak merasakan apa-apa, mungkin aku telah mati.
Tapi jika mati kenapa perasaan ini masih ada. Perasaan kosong dengan sedih bertubi-tubi yang menghentak-hentakan jantungku. Beginikah rasanya mati?
Tidak, aku belum mati. Bahkan aku belum terjun dari ketinggian ataupun meloncat keluar jendela. Aku belum bertemu ibu. Aku hanya gadis kecil yang merasa kosong. Gadis kecil yang berbicara pada foto-foto di dalam album dan bermain dengan bayangannya. Gadis kecil yang memeluk guling sebagai ayahnya. Gadis kecil yang ketakutan setiap kali melihat tatapan neneknya yang seperti mecungkil jantungnya yang kemudian memukulnya, yang kemudian menyesal, yang kemudian menamparnya, yang kemudian menyesal, yang kemudian memakinya, yang kemudian menyesal. Gadis kecil yang terlahir memiliki ayah dan ibu tapi hatinya yatim piatu. Gadis kecil yang melihat ayahnya mati dalam kesepian.
Gadis remaja yang tahu kisah ibunya yang minggat dari bibir tetangga. Gadis remaja yang mengasihani garis tangan ayahnya. Gadis remaja yang memahami perasaan yang berisisi, sisi sebelahnya menyerukan kepedihan anaknya, dan sebelahnya menyerukan kepedihan cucunya. Gadis remaja yang menginginkan kematian yang tenang seperti neneknya. Gadis remaja yang bermain dengan musik di ingatannya, yang pergi menemui ibu, ayah, dan nenek di ingatannya, yang hidup bahagia di ingatannya, di dunianya.
‘Sesi terapi hari ini tidak meberikan efek sama sekali, tidak ada jawaban bahkan tanggapan dari pasien. Melakolia. Ya ia berada dalam melankolianya.’
Dia berjalan menyentuh tanganmu. Kamu tak bergeming dan tetap memandang keluar jendela, memandang bulir hujan yang memukul-mukul kaca jendela yang kemudian merembes melalui kisi-kisi jendela dan membuat lantai basah dan mata dia basah namun tidak dengan hatimu yang tetap kering.
‘A, bagimu cinta selalu sepaket dengan pahit. Seperti cintamu kepada tokoh-tokoh dalam ceritamu. Cinta yang bagimu hanya seorang diri. Aku tau kamu kecewa. Dan memang banyak kekecewaan. A, akupun kecewa dengan pilihanku yang membuatmu hidup dalam kehampaan. Tapi A, aku hanya tidak tega menghadiahkan kepalsuan kepada orang yang aku cintai bahwa aku mencintainya sebenarnya tidak. Kita tahu terkadang kita ingin sekali menangisi diri sendiri. Ingin menikmati tangisan yang tak henti sehingga mata kita sembab dan hidung kita memerah. Menangislah A. Nikmatilah tangismu sampai kamu lelah lalu kembalilah. Kembali untuk menciptakan akhir dari kisah kita.
Nikmatilah perasaan kosong, hampa, datar, lenggang sampai lelah hatimu.’
A, kau pasti sedang merasa jengah dan berharap sesuatu mendorong mu dari kursi, menghantam jendela, membuat kaca hancur berantakan ke atas lantai marmer, kemudian kamu terhunyung keluar, setengah melompat, dan akhirnya kamu jatuh ke atas trotoar dengan bersimbah darah.
Tapi ada yang menggelitik hatimu yang membuat mu ingin bangkit dan melangkah keluar. Meniti tangga dan berlari kecil membuka pintu-pintu yang tertutup dan kemudian menemukannya. Akhir ceritamu, melankoliamu, kematianmu.
Petugas datang membersihkan genangan air di lantai. Dari sana aku menemukan punggung yang berjalan keluar. Tubuh ringkih dengan baju shifon bermotif bunga matahari.
Jangan pergi. Kata hatiku. Lalu aku menyebutnya. Pelan. Seperti berucap pada diri sendiri. ‘Ibu…’
Dan aku terhisap jauh kedalamnya, hampa. Melankolia.
Well diatas adalah cerita yang aku kirim pas ada lomba. Alhamdulilah jadi nominasi, dan akhirnya dibukukan. Itu cuma lomba tingkat Universitas. Aku bahagia walaupun gak beruntung karena gak dapat kiriman bukunya, pas aku confirm katanya mereka lagi pergantian kepanitiaan tapi pasti dikirim. Hmm, dari situ aku sudah gak terlalu berharap.
Entahlah dari sekian tulisanku aku paling suka tulisan ini walaupun ini gak sempurna. Aku sudah lama sekali gak nulis. Rasanya kangen tapi aku gak punya bahan buat di tulis. Buntu. Aku juga udah jarang baca buku.
Tulisan ini terinspirasi dari lagu Efek Rumah Kaca - Melankolia. Cerita dibalik lagu ini bikin aku kepikiran nulis ini. Terimakasih ERK yang nama vokalisnya mirip nama bapakku.
Well, melankolia itu wajar, tapi kita musti tau kapan waktunya kembali dari melankolia. Aku ni sok tau banget, apa gerang melankolia pid? Kagak tau sih. Ini sungguh gak berfaedah