Tidak terasa sudah bulan ketiga di tahun 2017 wah cepat sekali. Pada awal minggu bulan ketiga ini aku bakal mereview karya Tasha Kavanagh yang berjudul Things We Have In Common. Sesungguhnya sangat sulit buat review buku tanpa spoiler. Tapi ku kan berusaha.
Firstly, it's a bit of a mindfuck. Ini tentang seorang remaja Inggris berdarah setengan Turki bernama Yasmin yang terobsesi dengan teman sekelasnya, Alice. Dia selalu dibully karena ukuran tubuhnya. Yasmin adalah orang yang dikucilkan di sekolah dan dirumah dia gak merasa lebih baik karena hidup bersama ayah tirinya. Sosok Alice seperti lampu pijar di hidup Yasmin yang penuh kegelapan. Yasmin benar-benar terobsesi sampai mengumpulkan segala jenis barang yang menyangkut Alice, bungkus coklat yang dibuang Alice misalnya. Dan karena Yasmin yang selalu memperhatikan Alice, dia juga melihat seseorang. Dia melihat laki-laki yang memperhatikan Alice, yang menurut dia seperti seorang pedofil yang akan menculik Alice. Tentu saja itu semua hanya imajinasi Yasmin. Sampai semua itu bukan hanya menjadi imajinasi. Sampai Alice benar-benar menghilang, dan Yasmin mulai bertanya-tanya apakah dia harus mengatakan sesuatu, apa akan ada yang percaya, apa dia akan terlihat aneh, atau apakah dia sendiri akan dicurigai.
Hal yang paling aku suka dari buku ini adalah ketidakpastian. Yah bagaimana kita hanya bergantung pada narasi Yasmin. Dan rasanya mau nyumpah-nyumpah ‘Astaga Yaz kamu bego banget sih!’ ‘Astaga Yaz kamu kok baperan sih!’ Tapi apa mau dikata musti digaris besarin kalo Yasmin merupakan gadis remaja yang dibully dan dikucilkan di sekolahnya. Makan, makan sendiri. Jalan, jalan sendiri. Bahkan ngomong, ngomong sendiri. Disini kita bakal sering mendapatkan Yasmin ngobrol sama diri sendiri, atau berbisik ke diri sendiri. Merasa kesepian. Dan situasi di rumah malah semakin memperjelas kesepian yang dia rasain.
Yah kebanyakan buku yang aku suka adalah buku yang memiliki karakter rumit. Yang sebenernya aku punya banyak alasan buat gak suka sama Yasmin tapi disisi lain aku bener-bener paham apa yang Yasmin rasain. Dimana aku pernah alami itu jadi ya waktu baca ini aku kayak flashback, jadi rada baper.
Dan menurut aku Yasmin adalah contoh dari 'keterpaksaan menjadi gay’. Yasmin kesepian dan dia melihat Alice sebagai role modelnya, gadis yang sempurna. Aku yakin sebagian dari diri Yasmin iri sama Alice walaupun gak di tulis secara gamblang. Iri, kagum, dan akhirnya tidak pernah berhenti buat tidak memperhatikan Alice. Yah dia jauh lebih ingin menjadi teman Alice, diakui oleh Alice, agar pada akhirnya semua orang akan melihat Alice memilih Yasmin, yang kemudian di artikan oleh dia bahwa itu keinginan untuk memiliki. Apalagi banyak yang membullynya sebagai Lesbian karena ada acara tv yang presenternya orang gemuk dan mengaku bahwa ia lesbian.
I wanna tell you Yaz, if he never had seen you. He watch other girl. Oh Yaz you said 'He only had eyes for Alice', didnt you?
I know there will be people who hate the ending; in fact, I think the ending is kind of meant to be hated. I thought it was equal parts awful and perfect. In some ways, it could be read as an inevitable tragic conclusion to bullying and abandonment (which is safe to say without giving away spoilers).
A thought-provoking, strange and sad book.

Then, out of nowhere, you said, 'Do you believe in fate?' Just like that.