Books
Djenar Maesa Ayu dalam Cerita Cinta Pendek

9.8 karena kesempurnaan hanya milik Allah Yang Maha Esa.

Aku kenal Djenar waktu awal kuliah. Setelat itu baru tau kalo dia penulis yang hebat. Dan karena dia juga aku suka sama buku yang temanya sosial atau apalah ini. Masa membacaku dari teenlit, komedi, sampe ke yang dewasa. Lalu setelah itu malas baca buku sampe beberapa tahun, dan sekarang tumbuh lagi semangatnya. Btw, dulu soal komedi suka baca bukunya Oben Cedric dan suka ngebahas ini bareng Muhar. Sekarang udah gak tau lagi doi masih aktif nulis apa enggak.

Hal yang paling menyedihkan adalah aku gak bisa dapat satu set semua buku ini dengan cover yang sama. Soalnya nasib mahasiswa yang buat beli pulsa aja musti nabung satu bulan apalagi beli buku yang harganya lima puluh ribuan dan gak sebanding sama isinya yang kayak pembalut, semakin tipis semakin mahal. Akhirnya beli buku ini nyicil sampe salah satu bukunya gak ada dimana-mana bahkan di toko online, di toko yang lebih besar, dan di akun yang biasanya bisa nemuin buku-buku yang susah atau sudah gak cetak lagi. Sedih dong. Jadi beda sendiri yang bagian dada. Tapi gak begitu sedih karena akhirnya satu set buku Djenar bisa lengkap dengan kebaikan Harbolnas dari Gramedia, diskon 50% dan free ongkir, duh nikmat duniawi mana lagi yang kau dustakan.

 

Dalam mengaku pun Hyza, seseorang mungkin masih munafik!

- Durian

 

Mereka Bilang Saya Monyet

Aku pingin ngelihat ke dalam isi otak Djenar waktu nulis buku ini. Gimana sih dia bisa nyiptain tulisan bagus yang inti ceritanya dia sembunyikan dari kalimat-kalimat yang penuh arti yang bikin kadang bikin kita kaget sama akhirnya. Oke banyak yang bilang isi bukunya cuma soal sex, vulgar banget. Mungkin tabu buat sebagian orang, tapi ini masalah sosial yang sebenernya ada di sekitar kita cuma suka gak kita herani aja karena masalah moral.

Satu buku ini dari kumpulan sebelas cerita pendek. Banyak cerita yang dibungkus dengan kiasan nama hewan misalnya 'Mereka Bilang Saya Monyet' dan 'Lintah'. Kerasa cara Djenar membungkus cerita dengan kalimat-kalimat indah dan penuh makna, menggunakan nama hewan untuk pengganti sosok agar lebih mind blowing. Aku bisa ngerasakan emosi tokoh utama di setiap ceritanya.

Salah satu cerita tersedih di buku ini adalah 'Melukis Jendela'. Bagaimana seorang anak yang dibully karena gak punya ibu dan sampe di rumah dia juga gak mendapatkan kasih sayang. Berdialog dengan gambar-gambar yang dia anggap sebagai sosok ibu dan sosok ayah. Djenar pinter banget bikin kita nyampe sama rasa yang mau dia bagi, rasa marah dan rasa kecewa yang berlebih.

Ada juga cerita 'SMS' yang menurutku ceirta yang pintar sekali. Djenar bercerita bukan dengan paragraf-paragraf tapi dengan barisan pesan yang kita harus teliti buat baca nama pengirimnya supaya gak salah jalan ceritanya. Dan akhir ceritanya gak bisa ketebak.

Mungkin hidup ibarat mobil berisikan satu tangki penuh bahan bakar. Ketika sang pengendara sadar bahan bakarnya sudah hampir habis, ia baru mengambil keputusan perlu tidaknya pendingin digunakan, untuk memperpanjang perjalanan, untuk sampai ke tujuan yang diinginkan.

- Waktu Nayla

 

Moral diobral lima ribu tiga di gedung DPR hari ini.

- Moral

 

Jangan Main-main (Dengan Kelaminmu)

Masih sama dengan buku sebelumnya, di dalam buku ini juga terdapat sebelas cerita pendek. Cerita pertama 'Jangan Main-main (Dengan Kelaminmu)' jadi sesuatu yang unik karena paragraf yang diulang dari empat sudut pandang tokoh yang berbeda. Masih dengan tema perselingkuhan. Djenar kayaknya suka sama tema perselingkuhan, pelecehan, dan sosial. Misalnya di cerita 'Moral', Djenar mengangkat isu sosial tentang moral yang sudah jadi barang obral buat nutupin tabiat asli setiap orang. Isu sosial dan pelecehan lainnya diceritakan dalam cerita ke empat 'Menyusu Ayah'. Cerita yang sebenernya ada di sekitar kita tapi kita gak peduli karena balik lagi soal kayak gini tabu dan gak sesuai sama moral.

Cerita yang bikin aku speechless adalah 'Cermin' diawal cerita kita disuguhkan sebait puisi Sutardji Colzoum Bachri 'Kucari kau kucari. Kucari kau di kelengangan dalam. . .' langsung kerasa betapa suram cerita ini. Cerita Ibu yang depresi ketika putrinya bunuh diri, tokoh Ibu yang penasaran dengan alasan Putri yang dia kenal ceria bisa akhirnya mutusin buat lompat dari lantai dua puluh tiga. Aku juga penasaran sampe akhirnya aku baca ulang dan sadar kalo Putri kesepian, kenapa kesepian? Tokoh Ibu sempat cerita kalo Putri suka ngirim pesan cinta lewat SMS ditengah pekerjaannya yang menumpuk. Kenapa Putri taro kertasnya di cermin. Karena tokoh Ibu yang gak pernah ngelihat bayangannya sendiri di cermin, yang gak pernah intropeksi diri, yang makanya dia penasaran terus-terusan.

Djenar juga kadang bercerita dengan sudut pandang dari benda-benda mati misal di cerita 'Mandi Sabun Mandi' dan 'Penthouse 2601'.

Hanya ia yang tahu, kalau selama ini ia menatap cermin tanpa mau melihat bayangan dirinya sendiri.

- Cermin

 

Saya akan membuka hati hanya untuk terluka saja.

 

Nayla

Katanya ini novel pertama Djenar. Cara berceritanya masih sama. Sepenggal-sepenggal, seperti kumpulan cerpen yang jadi satu. Masih suka. Dari depan kita sudah digambarkan kehidupan Nayla. Yang lebih bagus karena kita bisa lihat dari sudut pandang Ibu, Ibu Tiri, Ibu Lina, dan lain-lain. Bahwa bukan cuma Nayla yang pikirannya kacau dan hatinya kisruh, bahwa semua orang dicerita ini punya masalah yang rumit.

Aku sama sekali gak kesusahan buat ngerti jalan cerita buku ini karena dibanding sama kumpulan cerpennya, buku ini jauh lebih bisa dimengerti. Yang aku suka Djenar membuat karya yang gak bikin bosan dengan diselipinnya dialog apalagi ada yang dalam bentuk sms, bukan cuma monolog panjang yang bikin bosan. Cara ceritanya juga bagus.

Di tengah cerita, Djenar juga ngebawa novel dia sebelumnya yang berjudul 'Waktu Nayla' di buku 'Mereka Bilang Saya Monyet' dan beberapa karya lain yang dia nyinyirin.

Hidup kan bukan perkara menang atau kalah. Konflik gak melulu berakhir dengan pencerahan.

 

Setiap orang punya impian tapi tidak semua orang punya cita-cita, tepatnya, tidak tahu.

- Suami Ibu, Suami Saya

 

Cerita Pendek Tentang Cerita Cinta Pendek

Buku terakhir yang jumlah ceritanya lebih banyak, tiga belas cerita. Dengan ilustri setiap ceritanya, katanya dia bikin sendiri. Walaupun aku gak paham karena bukan orang seni. Masih sama tema yang dibawakan Djenar dan masih suka. Antaloginya masih bikin penasaran dan ada rasa dimana gak rela waktu satu ceritanya musti selesai dan harus lanjut ke cerita selanjutnya.

Djenar membungkus perselingkuhan dengan cara yang indah dengan laut dan bintang di cerita 'Three More Days'. Ataupun perasaan resah setiap tokoh di cerita 'Cerita Pendek Tentang Cerita Cinta Pendek' yang menghadirkan sosok Ia dan Dia, kata ganti orang ketiga yang jadi inspirasiku dulu setiap nulis cerpen. Cerita yang bikin gak bisa berkata-kata itu cerita 'Lolongan Di Balik Dinding' gimana aku sudah bikin kesimpulan sendiri yang kemudian dipatahkan sama Djenar dengan cara yang ciamik.

Djenar bisa menjadi perempuan yang dikhianati, mencintai laki-laki yang sudah menjadi milik orang lain, menyayangi perempuan yang telah menjadi milik orang lain, bahkan menjadi, pengerat laki-laki hidung belang yang tidak pernah puas memenuhi keinginan libidonya. Atau juga Djenar bisa menjadi laki-laki yang tidak bahagia dan berusaha bahagia dengan kebahagian orang lain, yang mungkin saja tidak bahagia. Dan yang pasti, Djenar bisa menjadi siapapun!

 

Well karena ini bakan jadi postingan yang panjang kalo aku bahas satu-satu cerita yang ada di dalam setiap buku, jadi marilah kalian untuk membaca sendiri dan ngerasain jatuh bangunnya perasaan waktu baca.