Books
Dilan Series - Pidi Baiq

Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Setelah malas berkepanjangan buat baca buku dan dilanjut malas berkepanjangan buat review buku, akhirnya punya niatan buat review semua seri Dilan dari Pidi Baiq. Buku ini aku dapat waktu ulang tahun ke 21 tahun 2015. Lama sekali. Dan sudah request sama temen-temen aku setiap ke toko buku supaya di kasih hadiah seri Dilan yang waktu itu baru ada dua. Sudah pingin banget beli buku Dilan dari tahun 2014 waktu tau ayah Pidi Baiq ngeluarin buku barunya. Aku sudah khatam Drunkennya, eh belum masih ada dua buku yang belum punya tapi udah bingung cari dimana. Komik sama buku featuring Happy Salma juga sudah. Sesuka itu smaa Pidi Baiq. Cara penyampaiannya emang beda. Apalagi namanya pidi, baiq lagi, kayak aku banget si pidi anak yang baik. Pertama tau Pidi Baiq dari The Panas Dalam, pas SMA. Dan sejak itu aku berada di Pidi Baiq side.

 

 

Cinta sejati adalah kenyamanan, kepercayaan, dan dukungan. Kalau kamu tidak setuju, aku tidak peduli.

Novel pertama dari Seri Dilan adalah Dilan, Dia adalah Dilanku Tahun 1990. Waktu itu aku belum lahir tapi si Dilan udah SMA aja. Secara personal aku jadi gak begitu suka novelnya semenjak kemunculan potongan-potongan film Dilan dan kemudian di retweet, di post di ig, di share, dan di quote jutaan orang di dunia ini. Jadi pas ingat ada tulisan yang aku suka tapi tiba tiba jadi gak suka karena udah bosan dengarnya. Kayak 'rindu itu berat biar aku saja' atau kalimat ala Pidi Baiq yang pake kata 'jangan' buat kalimat tanya 'mau di cerita jangan?' Mungkin mereka sangking sukanya kali ya. Lagian buku ini emang quoteable sekali.

Cerita cinta yang ringan walaupun bakal bikin kaget buat anak kampung macam aku yang ngerjakan pr di sekolah aja udah keringat dingin, merasa manusia yang paling berdosa. Semacam kayak 'Apaan sih Milea ini bolos sekolah seenak jidatnya!' atau 'Loh kok orang tuanya ngijinin banget sama hal-hal yang nakal?' atau masih banyak lagi. Dan ini dijelaskan di buku Dilan kedua.

Terlepas dari hal-hal yang mengagetkan sepeti itu, buku ini asik. Buku ini membuat sebagian kaum hawa di dunia jadi bermohon untuk mendapatkan jodoh seperti Dilan kepada Tuhan YME. Cuek tapi romantis, romantis dengan cara yang beda dari kaum adam kebanyakan. Yang bikin Milea ngerasa diistimewakan dan pada bagian ketiga kita mendapati Milea yang jadi menuntut untuk selalu diistimewakan.

Untuk buku Dilan pada seri yang pertama, untuk karakter, jalan cerita, dan penulisan aku kasih nilai 7. (Wow sudah seperti reviewer hebat di luar sana belum?)

 

Aku ingin pacaran dengan orang yang dia tahu hal yang aku sukai tanpa perlu kuberitahu, yang membuktikan kepadaku bahwa cinta itu ada tetapi bukan oleh apa yang dikatakannya melainkan oleh sikap dan perbuatannya.

 

 

Aku merasa sedih untuk apa yang hilang, tapi kupikir mungkin ada pelajaran yang bisa kita dapati dari situ.

Masa lalu bukan untuk diperdebatkan, kukira itu sudah bagus. Mari biarkan.

Buku keduanya adalah Dilan, Dia adalah Dilanku Tahun 1991. Satu tahun setelahnya ketika kisah cinta SMA berakhir untuk berpisah bukan menikah seperti Lintang, Endra, Ragil, dan Nita (Btw, mereka temen-temen ku yang pacaran dari SMA, eh kalo Lintang dari SMP, luar biasa, bertahan sampe lulus kuliah dan dapat kerja). Waktu baca buku ini bener-bener kebawa sama ceritanya. Buku ini nilainya satu tingkat lebih tinggi dari pada buku pertama, nilainya 8.

Ada yang bilang karakter Dilan jadi lemah. Mungkin karena ceritanya bukan hanya tentang Dilan dan Milea tapi lebih banyak lagi. Dan yang perlu diingat ini cerita dari sudut pandang Milea. Dia ingin menceritakan betapa waktu itu dia marah, dia kacau, dia menyesal, dan dia cuma menyampaikan cerita dan pendapatnya dari sudut pandang dia. Marah, kacau, dan sesalnya Milea bukan berasal dari Dilan aja, tapi banyak dan luas. Makanya karakter Dilan gak menonjol. Lagian Milea lagi kesal, mau digodain pake seribu rayuan Dilan juga gak mempan, tau sendiri cewek kalo sudah marah rubah ekor sembilan juga kalah berantemnya.

Menurut ku Milea butuh Dilan di tahun 1990 yang masih memproritaskan Milea pada setiap pilihannya, yang selalu mengistimewakan Milea. Tapi begitulah laki-laki Milea, setelah kamu jadi milik dia, dia bakal kembali ke sifat aslinya, jadi pintar-pintar kamu buat bertahan, kalo gak kuat lepasin. Dan aku rasanya mau bilang 'Jadi masih cinta sama Dilan? Gimana sama Mas Hendra?' Aku mau peluk Mas Hendra haha.

Mungkin lebih ke penyesalan karena pernah berpisah. Masih ada penasaran karena belum dapat jawaban yang jelas. Semoga dengan adanya buku Suara dari Dilan bisa bikin Milea jadi tenang dan gak kepikiran Dilan lagi.

Waktu membawa aku pergi, tetapi perasaan tetap sama, bersifat menjalar, hingga ke depan!

 

 

Buku ketiga dari seri Dilan yang berjudul sedikit beda, Milea, Suara dari Dilan, ini menurutku paling bagus. Bener-bener puncaknya buat tepuk tangan yang keras. Gimana dari dua buku sebelumnya aku selalu dibuat penasaran sama perasaan Dilan dan sekarang dikasih tau langsung sama Dilannya.

Aku ingat, aku pernah bilang kepadanya jika ada yang menyakitinya, maka orang itu akan hilang. Jika orang itu adalah aku, maka aku pun harus hilang.

Dilan sedih sama seperti Milea, tapi Dilan lebih logis buat mikir kedepan. Tuhan memang Maha Pengatur segalanya, termasuk jodoh. Jadi apa yang gak kamu dapat artinya itu hal yang gak kamu butuhin. Karena sudut pandang dari cowok jadi lebih kebawa emosinya.

Hal yang paling menarik dari cerita Dilan dan Milea adalah mengingatkan semua mahluk dibumi ini buat gak berprasangka dan sok tau. Dilan kira Milea sudah punya pacar, Milea kira Dilan sudah punya pacar, Dilan kira ini, Milea kira itu. Dan mereka gak punya line yang sama lagi buat berhubungan kembali, kalopun ada jadi canggung. Tapi buat anak 17 tahun ya itu wajar sih.

Ketiga buku ini sangat bagus, kisah cintanya realistis. Tujuan pacaran untuk putus kata Pidi Baiq, bisa karena menikah, bisa karena berpisah. Buku ini bagus dibaca buat orang yang susah move on. Ikhlas itu berat, perasaan susah dihilangkan, rindu susah dikendalikan, tapi pada akhirnya kita paham memang ini jalannya, jalan terbaik buat setiap orang yang sedang patah hati.

 

Terima kasih Pidi Baiq untuk ceritanya yang betul-betul menguras jiwa dan raga. Yang memberikan banyak pelajaran lewat cerita Dilan dan Milea. Yang bikin aku berpikir ulang buat hubunganku yang sekarang.

 

Biar bagaimanapun tidak ada yang akan baik-baik saja tentang sebuah perpisahan, dan itu adalah perasaan sedihnya, bagaimana kita memulai dari awal, dan kemudian mengakhirinya di tempat yang sama.