Yes, if hope flown away in a night, or in a day, or in none, is it therefore the less gone? All that we see or seem is but a dream within a dream.
Semacam bangun dari hibernasi panjang. Berapa bulan ini aku disibukan sama banyak kegiatan dan lumayan pekerjaan yang menyita segala perhatian, termasuk perhatian doi ke aku berapa bulan belakang ini. Aku ini selalu curhat dimana aja ya. Sebenenya ngeles banget, aslinya emang aku males aja. Lebih suka ngukur kasur daripada ngisi waktu dengan hal berfaedah.
Bulan ini aku nyelesaikan baca buku The Butterfly Garden dari Dot Hutchison. Well sebenernya aku mulai baca dari beberapa bulan yang lalu tapi itu cuma halaman depannya aja, jadi selama dua minggu aku tekun buat baca ini. Dan selesai. Serasa bangga sama diri sendiri. Merasa udah dewasa tiba-tiba.
The Butterfly Garden was a book I knew nothing about. I haven't been highly anticipating it for months and it only made it on to my "to read" shelf. Dan bulan lalu, ada seseorang teman baru yang menyapa, katanya dia menunggu review buku selanjutnya and everything about it called to me. And my instincts totally wrong - I wasn't enthralled on the first page.
Cerita dimulai dengan dua agen FBI mencoba untuk menemukan kebenaran di balik TKP yang baru mereka temukan. Mereka menemukan "The Garden", sebuah penjara dimana terdapat psikopat yang dikenal sebagai "The Gardener" yang telah membuat beberapa wanita muda terjebak selama beberapa dekade. Dia menyebut wanita-wanita yang dia tawan itu sebagai "Butterflies", membuat tato sayap pada punggung mereka sebelum mengganti nama mereka, dan memaksa mereka melupakan masa lalunya, bahkan nama aslinya. Seperti tawanan pada umumnya, mereka diperkosa dan terancam dengan kehadiran salah satu anak laki-lakinya.
Ya, mereka tau ini. Kita tau ini. Tapi saksi yang mereka wawancarai - Maya - yang benar-benar tau seperti apa kenyataan di balik The Garden. Kengerian itu terjadi. Kebenaran di balik apa yang terjadi pada anak perempuan saat mereka berusia dua puluh satu tahun. Dan mungkin, mungkin saja, dia tahu lebih banyak. Saat menceritakan kisah hidupnya sebagai tawanan, terasa jelas bahwa dia menyembunyikan sesuatu, dan agen mulai mempertanyakan bagian mana yang dimainkan Maya dalam kejahatan ini.
Sejujurnya aku baru bahagia baca ini setelah dua puluhan halaman. Setelah mengerti betul apa yang benar-benar diceritakan. Aku bener-bener kepikiran sama lanjutan ceritanya bahkan setiap kerja. I have really gone with her story live. She is the one who be narrator, and she did it. Mysterious, cynical, sympathetic. Full of secrets that keep us reading. Tapi kadang bikin kesel sih, apalagi suka baper.
Awalnya memeng rada susah bayangin bentuk The Garden, dengan otak sekecil udang dan nilai Bahasa Inggris yang mau nangis. Tapi dipertengahan aku baru bisa kebayang dan itu jadi super fantastis, wow, besar. Gardenernya kerja apaan sih? Kaya sekali sepertinya. Entah kenapa besarnya Garden diotak ku yang bikin suka susah nalar.
Tanpa mempedulikan kondisi The Garden, aku suka setiap bagian karakternya. Bahkan villain seperti Avery juga aku suka, aku bisa paham. Apa yang dia lakuin semuanya beralasan dan pas diakhiran kita bisa ber-oh panjang. Dan ini yang membuat pesona tersendiri untuk The Butterfly Garden. Persahabatan yang rumit dan kepribadian yang berbeda. Tidak ada karakter yang dilewatkan begitu saja, mereka digambarkan dengan jelas, dan setiap Butterfly merupakan individu penting dalam lingkupnya sendiri.
“Honestly? I don’t think I know what that kind of love is. I’ve seen it in a few others, but for myself? Maybe I’m just not capable of it.”
“I can’t decide if that’s sad or safe.”
“I can’t think of any reason it can’t be both.”
Setiap karakter menarik. Bliss yang lurus dan penuh semangat, even she has not known when to shut her mouth. Zara si jalang yang penyayang. Lyonette sebagai Butterfly yang menjaga setiap Butterflies. Dan Lorraine yang menyebalkan tapi disatu sisi kita paham kalo dia sosok yang benar-benar membutuhkan cinta. Semuanya rumit, berlapis-lapis dan merangsang pemikiran.
The Butterfly Garden is somehow both a horrifying thriller and the tale of the friendships and rivalries between young women. It's a strange combination that leaves the reader with a bittersweet aftertaste. I doubt I will ever forget it.

There's this moment when you know suddenly, everything's changed