Trip
Tragedi Dieng yang Mengasyikan

Tepat setelah Pemilu 2019 yaitu tanggal 19-20 Maret 2019, aku bersama teman terbaik yang aku miliki di dunia digital pergi ke Dieng. Dieng jadi pilihan setelah batin beradu pendapat tentang Taman Nasional Ujung Kulon. Padahal ya Ujung Kulon ni enak bisa main di hutan, sungai, laut, lengkap. Tapi karena aku takut perkara gunung karakatau dan aku belum siap mati maka aku menjauhi lokasi-lokasi berbahaya kala itu.

Trip yang aku pilih yaitu Dieng Plateu. Tetapi karena sebuah tragedi menyebabkan itinerarynya berhamburan kayak barang-barang dikontrakanku. Firasat buruk tentang perjalanan ini udah kerasa semenjak Sur Ra Man Ra A Ni. Jadi pas mau bayar disuruh transfer atas nama Sur Ra Man Ra A Ni. Dikira typo sekalinya check rekening, namanya emang itu. Hampir gak percaya nama orang, ya aku kira nama agen travelnya. Ternyata enggak, memang itu namanya. Dan dari nama itu perjalanan mencekam dimulai.

Jam lapan malam, aku dan temanku, diarahkan untuk kumpul di Plaza Semanggi. Karena perjalanan yang panjang sekitar 7 - 8 jam, aku memutuskan untuk membeli makanan ringan, air, dan terpenting Antimo. Karena aku orangnya pemabuk, minum green sands 0% alkohol aja mabuk. Disini kami menjadi  orang yang gampang curiga. Lihat orang bawa tas gede atau jaket atau belanja makanan ringan sudah curiga dia salah satu rombongan kami. Dan kami menganalisa apakah dia akan jadi orang yang kami benci atau tidak. Untuk hal ini sebenernya bukan kami, tapi teman ku aja. Kalo aku sih orangnya bodo amat, gak heboh, dan gak suka aneh-aneh.

Setelah sampai di meeting point, kami dikecewakan dengan tidak tuntasnya rasa penasaran kami dengan Su Ra Man Ra Ani. Tapi tidak apa-apa karena aku takut temanku tambah heboh kalo ketemu beliau.

Sepanjang perjalan ketika yang lain memutuskan untuk tidur, termasuk aku, teman ku hebah-heboh bergunjing tentang rombongan yang ada di kursi depan kami, yang selanjutnya menamai dirinya sebagai Keluarga Tercemar. Apalagi di kursi depan kami ada pasangan yang membuat sisi nyinyir kami terusik. Perjalanan yang seharusnya paling lama 9-10 jam menjadi 15 jam. Wow. Katanya rutenya berubah. Katanya jalanan macet. Katanya ada yang longsor. Yang aku tau setiap bangun masih ada di jalan, ngobrol bentar, makan cemilan, lihat pemandangan, tidur. Begitu terus sampai tempat tujuan.

Sampai di penginapan, kami beristirahat sebentar untuk makan siang dan menaruh barang-barang. Setelah itu lanjut ke tujuan pertama yaitu Batu Ratapan Angin. Aku kira disini akan ada statue seperti malin kundang yang ternyata tidak. Disebut demikian karena tempat ini bentuknya seperti tebing. Yang sebenarnya mirip bukit di belakang rumahku yang sebagiannya sudah dikeruk. Anginnya tidak cukup kuat sehingga membuat batu-batu disana tidak sedang meratapi angin, mungkin karena cuaca. Tidak ada yang spesial kecuali pemandangan telaga warna dibawahnya.

 

 

 

Setelah melihat telaga warna dari atas tebing, selanjutnya kami dibawa untuk mengunjungi lokasi telaga warna. Dinamakan telaga warna karena telaga ini memiliki tiga kolam yang warnanya berbeda-beda. Karena perjalanan ini penuh dengan tragedi maka perjalanan ke telaga warna harus dihiasi dengan tragedi bis mogok sehingga kami dicarikan tumpangan lain untuk sampai ke lokasi. Sampai telaga warna sudah hampir tidak ada pengunjung kecuali rombongan kami. Sebenernya aku suka karena lebih sepi.

 

 

Malamnya, aku dan temanku berjalan-jalan di sekitar penginapan. Teman sekamar dan guide dieng yang kemudian kita sebut ading ikut bersama kami. Ading kemudian mengajak untuk minum kopi di kedai temannya yang setelah kami berkenalan pemilik kedai tidak mengenal dia. Ya tidak apa apa, mungkin orangnya suka berteman. Aku memilih kopi prau yang akhirnya aku sesali karena terlalu masam, ditambah dengan kopi sikunir yang juga masam.

Besok paginya kami mendaki bukit sikunir. Jangan terlalu tegang, mendaki disini tidak perlu tali tambang dan tidak securam bukit pada umunya. Sudah ada jalan setapak yang walaupun begitu juga membuat aku hampir mati. Diperjalanan melewati gunung prau kami berpapasan dengan orang-orang yang cukup banyak bersiap mendaki gunung. Melihat banyaknya pengunjung gunung prau, aku berharap bukit sikunir tidak sebanyak itu. Dan ternyata diatas bukit sikunir ada pasar malam dadakan. Aku sampai takut bukitnya longsor karena terlalu banyak orang. Rasanya sangat berbeda dengan menunggu matahari terbit lewat semak-semak ijen bahkan di bromo.

 

 

Setelah matahari sedikit tinggi, aku dan teman ku berpindah tempat dan meninggalkan riuh kerumunan manusia lainnya. Kami mencari spot foto. Sedikit sedih karena tidak mendapatkan momen negri diatas awan. Katanya angin cukup kuat sehingga awannya pecah dan tidak berkumpul.

 

 

Setelah itu kami menuju pemberhentian berikutnya yaitu kawah sikadang. Disini ada yang unik, yaitu merebus telur dengan air panas alami dari bumi. Dan banyak juga yang menjual hasil alam seperti wortel, paprika, kopi teh, dan yang paling mencuri perhatian adalah cabe yang besar dan tebal seperti paprika dan rasanya enak. Sayang pedagang disana hanya menjual untuk kemasan besar saja, aku takut busuk jika membeli terlalu banyak. Sama seperti batu ratapan angin, di kawah sikadang juga dibuat beberapa spot foto yang sebenarnya malah merusak foto karena tidak alami.

 

 

Pulang dari kawah sikadang kami berhenti di depan warung yang menjual mie ongklo. Mie yang aku hebah heboh ingin mencoba namun ternyata tidak bisa diterima lidah ku. Rasanya manis dan ada bumbu kental seperti dari sagu. Sama sekali tidak masuk ke lidah, aku iri dengan orang yang memesan indomie. Bahkan guide yang ku sebut ading sebelumnya dia memilih memesan indomie, sepertinya dia juga sudah kapok dengan mie ongklo.

Setelah makan, kami menuju ke candi Arjuna dengan berjalan kaki karena tidak terlalu jauh. Lokasinya tidak besar. Aku tidak berfoto disini. Karena penuh orang dan fotonya jadi bocor. Yang menarik disini ada boneka badut teletubbies dan hello kitty jadi suka salfok untuk tempat yang harusnya kental sejarah tapi ada sesuatu yang modern dan lucu.

Selesai dari candi, kami bersiap pulang dan makan siang. Beberapa tempat tidak kami kunjungi karena bis yang mogok dan estimasi perjalanan yang diluar perkiraan. Selain itu ada rombongan Keluarga Tercemar yang disetiap tempat berfoto sampai habis memory. Kesialan lain yang menyusul adalah ketika perjalanan pulang yang memakan waktu 17 jam, aku bersyukur karena itu hari libur.

Akhirnya aku bisa menyelsaikan postingan ini, banyak detail yang gak aku tulis padahal aku biasanya suka nulis sampe ke detail-detailnya. Bakso brebes yang pentolnya menggelinding di lantai, teh cap dandang, partai anjing, topi hewan, dan lain-lain. Bahkan gaya penulisan yang berubah. Tapi bodo amat. Dan sekarang aku rindu liburan lagi.